Penjelasan Dashboard “Dashboard Bencana”

Dashboard ini merupakan dashboard monitoring dampak bencana alam di Indonesia yang menampilkan jumlah korban, kerusakan infrastruktur, sebaran lokasi bencana, serta tren jenis bencana dari waktu ke waktu. Dashboard ini kemungkinan dibuat menggunakan tool BI seperti Power BI, dengan tema warna biru dan oranye sebagai aksen.


1. Header & Filter (Atas)

Judul: “Dashboard Bencara Example” (catatan: kemungkinan salah ketik dari “Bencana”)

Terdapat filter untuk menyaring data:

  • Provinsi — dropdown pemilihan provinsi
  • Kabupaten/Kota — dropdown pemilihan kabupaten/kota
  • Rentang Tanggal (From–To) — periode data, contoh: 1/1/2025 00:00:00 sampai 7/31/2025 23:59:59 (data mencakup 7 bulan pertama 2025)

2. Kartu Ringkasan Korban (Kiri Atas)

Empat kartu metrik menampilkan jumlah korban akibat bencana:

MetrikNilai
Meninggal294
Terluka476
Hilang28
Terdampak4,440,002

Insight: Jumlah masyarakat yang terdampak sangat besar (lebih dari 4,4 juta jiwa) dibanding jumlah korban jiwa langsung, menunjukkan bencana berskala luas namun dengan tingkat fatalitas relatif terkendali.


3. Kartu Kerusakan Infrastruktur (Kanan)

Tiga kartu menampilkan jumlah bangunan yang rusak:

Jenis BangunanJumlah Rusak
Rumah Rusak Berat2,946
Sekolah Rusak271
Kantor Rusak17

Insight: Rumah tinggal menjadi infrastruktur yang paling banyak mengalami kerusakan berat, jauh melebihi fasilitas pendidikan dan perkantoran — mengindikasikan dampak signifikan terhadap permukiman warga.


4. Intensitas Setiap Bencana (Bar/Treemap, Kiri Tengah)

Judul: “Intensitas Setiap Bencana”

Menampilkan perbandingan jumlah kejadian berdasarkan jenis bencana:

  • Banjir: 1,334 kejadian (dominan, warna biru)
  • Longsor: 223 kejadian (warna oranye/merah)
  • Terdapat kategori lain dengan proporsi kecil (warna hijau di bagian bawah, tidak berlabel jelas)

Insight: Banjir merupakan jenis bencana dengan intensitas kejadian jauh tertinggi dibanding jenis bencana lainnya, menjadikannya prioritas utama dalam mitigasi.


5. Peta Sebaran Bencana (Tengah)

Peta interaktif yang menampilkan sebaran lokasi bencana di wilayah Indonesia (dengan tampilan peta yang mencakup Asia hingga Timur Tengah, namun fokus data di Indonesia — terlihat titik-titik di Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Berau, Kabupaten Bone, Kabupaten Sumba Timur, dll).

Terdapat tombol toggle untuk mengganti tampilan data pada peta:

  • Terdampak
  • Meninggal (sedang aktif/dipilih)
  • Hilang
  • Terluka

Fitur ini memungkinkan pengguna melihat sebaran geografis untuk masing-masing kategori dampak secara terpisah.


6. Tingkat Kematian Tertinggi di 10 Provinsi (Bar Chart Horizontal, Kiri Bawah)

Menampilkan jumlah korban meninggal berdasarkan provinsi, diurutkan dari tertinggi:

ProvinsiJumlah Meninggal
Jawa Barat49
Jawa Tengah35
Jawa Timur35
Bali23
Papua Barat16
Lampung14
Nusa Tenggara Barat12
Nusa Tenggara Timur12
Kalimantan Timur11
Sulawesi Tengah11

Insight: Provinsi-provinsi di Pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur) mendominasi jumlah korban jiwa tertinggi, kemungkinan karena kepadatan penduduk yang tinggi di wilayah tersebut.


7. Trend Jenis Bencana Setiap Bulan (Area Chart, Kanan Bawah)

Judul: “Trend Jenis Bencana Setiap Bulan”

  • Sumbu X: Bulan (Jan 2025 – Jul 2025)
  • Sumbu Y: Jumlah korban meninggal
  • Menampilkan tren untuk berbagai jenis bencana (legenda “Event Type Name”): Abrasi Pantai, Angin Kencang, Banjir, Banjir Bandang, Banjir dan Tanah Longsor, Banjir Genangan, Banjir Rob, Banjir Waduk, Cuaca Ekstrem, Erupsi Gunung Api, dll.

Pola yang terlihat:

  • Januari 2025: lonjakan tertinggi (~57 korban meninggal), didominasi warna oranye (Banjir Bandang)
  • Februari 2025: turun drastis ke titik terendah (~5-10)
  • Mei 2025: terjadi puncak kedua (~32), kembali didominasi Banjir Bandang
  • Bulan-bulan lain menunjukkan fluktuasi sedang di kisaran 10-20

Insight: Banjir Bandang tampak sebagai kontributor utama korban jiwa di sepanjang periode, dengan dua puncak signifikan di Januari dan Mei 2025 — kemungkinan berkaitan dengan musim hujan/curah hujan tinggi pada bulan-bulan tersebut.


Ringkasan Fungsi Dashboard

Dashboard ini dirancang untuk membantu pihak berwenang (BNPB, pemerintah daerah, atau lembaga kemanusiaan) untuk:

  1. Memantau jumlah korban (meninggal, terluka, hilang, terdampak) secara real-time.
  2. Mengevaluasi kerusakan infrastruktur akibat bencana (rumah, sekolah, kantor).
  3. Mengidentifikasi jenis bencana paling sering terjadi untuk prioritas mitigasi (banjir menjadi perhatian utama).
  4. Melihat sebaran geografis bencana melalui peta interaktif.
  5. Mengetahui provinsi dengan risiko kematian tertinggi guna alokasi sumber daya yang tepat sasaran.
  6. Menganalisis tren musiman jenis bencana untuk kesiapsiagaan di bulan-bulan rawan.

Catatan: Interpretasi di atas didasarkan pada elemen visual yang terlihat pada gambar. Angka dan tren pasti dapat berubah tergantung data sumber dan filter yang diterapkan.